Jumat, 04 Januari 2013

Pengorbanan Penuh Makna



Pagi hari berganti dengan dinginnya malam. Sang surya yang panas, tergantikan dengan lembutnya sinar rembulan. Hari demi hari telah terganti. Setiap bulan telah dilewati. Setiap tahun telah dipijaki. Tetapi, mengapa Satrio masih belum menemukan tambatan hati?. Apakah ini sebuah takdir dari Tuhan?. Apa benar Tuhan itu adil?. Memang Satrio tidak pantas untuk berkata seperti, tapi kapan cinta itu datang. Sampai kapan Satrio harus menunggu?. Sudah !! Cukup hentikan semua khayalan ini !! Tolol !!

Satrio hanyalah seorang lelaki biasa, simple, kaya, tetapi penuh makna. Makna tentang cinta. Meskipun dia telah berpacaran beberapa kali, tetapi tetap saja. Hanya rasa sakit yang ia terima. Wajar saja, Satrio adalah keturunan orang kaya. Tak sedikit perempuan yang ingin mendampingi hidup Satrio hanya karena harta. Bukan cinta. Memang,semua bisa dibeli dengan uang. Tetapi, semua itu akan percuma jika tidak merasakan indahnya cinta dan kebahagiaan. Hidup tanpa cinta, sama saja seperti hidup di ruang hampa udara. Gelap. Kosong. Itu yang Satrio rasakan.

Sama halnya dengan murid lain. Pagi ini Satrio harus berangkat pagi untuk menuntut ilmu. Dengan langkah tergesa-gesa, Satrio langsung saja menaiki mobilnya tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya. Orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Pekerjaan yang hanya bisa menghasilkan uang, bukan kebahagiaan.

Saat disekolah, bisa dibilang Satrio adalah salah satu murid terpandai di kelas. Tak jarang dia dipuji oleh guru dan teman-temannya. Tetapi saat istirahat tiba, Satrio hanya sendirian. Hanya kesepian yang ia rasakan. Satrio memang belum pernah merasakan kebahagiaan. Datang seorang perempuan berparas ayu untuk menghampiri Satrio. Dinda namanya.