Selasa, 26 Maret 2013

Bertahan Karena Cinta : Bab 3



Bab 3 : Tak Seperti Seharusnya

Pagi mulai menyapa. Embun pagi masih melekat di dedaunan setelah hujan semalam. Air juga masih membasahi jendela kamar Rendy. Kamar yang tidak memiliki pendingin ruangan, tertulis AC Milan di pintu kamarnya dan poster tentang AC Milan. Pagi ini, tidak ada kegiatan sama sekali di rumah. Rendy masih memeluk erat gulingnya karena masih lelah dalam perjalanan pulang dari Cuban Rondo semalam. Aurel?. Pagi ini langkah kakinya tidak terdengar di setiap sudut ruangan, hanya keheningan. Begitu juga dengan Mami.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Masih tidak ada siapa-siapa di rumah. Hanya Rendy. Rendy mulai terbangun saat handphone yang ada di sebelahnya mulai bergetar dan mengeluarkan suara kencang. Dengan malas ia mengambil hpnya. Bertuliskan ‘Dita’. Nama yang jelas tidak asing baginya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan, otak dan kata hatinya saling bertentangan. Antara tidur dan menyapa orang yang ia cintai itu.

Sang matahari mulai tergelencir dari timur ke barat. Semakin menampakkan cahayanya yang sangat terang-benerang. Daritadi Rendy hanya menempelkan kepalanya dengan bantal yang lembut. Dia masih memikirkan kata yang harus ia jawab saat berkomunikasi dengan Dita tadi pagi. “Nanti siang kita keluar, yuk? Aku males nih dirumah sendiri.”, itu yang di ucapkan Dita. Dengan setengar sadar, Rendy meng-iya-kan apa yang dikatakan Dita tadi. Ia sangat kebingunan.  

Apa yang harus Rendy lakukan?.

Beberapa menit kemudian Aurel dan Mami datang mengenakan pakaian olahraga. Mungkin karena mereka teralu dekat, mereka saling berebut oksigen untuk dihirup. Nafas mereka terdengar sekali. Jantung mereka terpacu lebih cepat dari biasanya. Otot-otot yang biasanya kuat menyangga berat badan, kini menjadi layu. Mereka bahkan susah untuk berdiri tegak. Apa yang sebenarnya terjadi?. Tadi Dita, sekarang Aurel dan Mami. Sangat memilukan.

“Habis dari mana nih, Rel?”, ucap Rendy penuh kebingungan
“Ha-ha-habis dari..... habis dari olahraga pagi”, jawab Aurel pelan dan terbata-bata. “Tolongin Mami, Ren”
“Oh iya. Sini Mami saya antar ke kamar aja, ya?” tanya Rendy sambil menggendong Mami dipundaknya. “Mami lebih baik istirahat dulu, jangan capek-capek, Mam. Inget umur.”
“Iya, nak. Maaf ya ngerepotin kamu terus.”, ucap Mami perlahan, nafasnya masih terdengar lebih kencang dari biasanya.

Hari ini sangat memilukan bagi Rendy. Pertama, Dita dengan kengininannya mengajak Rendy keluar. Kedua, keadaan Mami yang terlihat mengkhawatirkan. Ia masih bingung memutuskan apa yang harus ia lakukan. Rendy tidak ingin mengecewakan keduanya. Dita adalah wanita yang di idam-idamkan Rendy sejak awal masuk kuliah. Mami adalah orang terkasih yang selalu menemaninya sejak awal kedatangannya di Surabaya.

Aurel mulai mendekati Rendy yang terlihat murung dan kebingungan. “Ren, kmu kenapa?.”, ucap Aurel, nafasnya mulai teratur dan jantungnya mulai berdegup seperti biasanya. “Emm... Gak apa-apa kok, Rel.”, senyum manis mengembang dibibirnya. “Udah jangan bohong deh, coba jelasin aja gak apa-apa kok”, ucap Aurel lagi. “Jadi gini.....”, Rendy menjelaskan semuanya secara panjang lebar kepada Aurel. Semuanya sekarang menjadi lebih jelas, tanpa ada rahasia lagi diantara mereka. Rendy juga merasa lega telah menceritakannya.

Pintu kamar ruangan Mami perlahan terbuka. Mami yang tadinya kelelahan dengan nafasnya yang tersendak-sendak, kini mulai berjalan kerluar dari kamarnya. Mungkin karena telah mendengar pembicaraan Aurel dan Rendy. Mami seakan mengerti apa yang dirasakan Rendy. Beliau kemudian mengijinkan  Rendy untuk pergi bersama perempuan itu. Dita.

*****

Siang ini awan gelap bergelantungan di atas kota Surabaya. Mungkin akan turun hujan. Tetapi hal ini tidak menyurutkan niat Rendy untuk bertemu dengan Dita. Beberapa menit yang lalu Rendy menelfon Dita untuk meyetujui permintaannya tadi. Kemudian Dita menunjukkan tempatnya untuk bertemu dengan Rendy.

Rendy mulai menyusuri keramian jalan di kota Surabaya dengan motor bututnya itu, sepeda motor lama yang dimodifikasi kembali oleh Rendy. Rendy mulai memperlambat laju motornya saat menyusuri jalan W.R Supratman. Bertuliskan “Black Cafe” di ujung jalan. Rendy mulai memakirkan sepeda motornya di dekat kafe. Dia terus berjalan, berjalan dan berjalan menyusuri kafe untuk bertemu dengan Dita. Tangan yang tadinya santai, kini menjadi tegang dan mengepal seperti batu. Otak yang tadinya hanya berisi Dita, kini mulai menghilang. Badan yang tadinya tegap, kini menjadi layu dan tak bersemangat. Ini semua karena Dia!. Hatinya terus berteriak dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dari kejauhan. Itu Dita. Bukan hanya Dita saja, tapi ada seorang pria mengenakan baju berwarna hitam dan berkaca mata. Pandangan mereka saling bertemu pada satu titik yang romantis dengan tangan yang saling menggenggam dengan erat. Rendy tak bisa berkata lagi. Hatinya kini terluka sangat dalam. Kata ‘cinta’ seakan menghilang dari pikirannya yang telah tersiksa dan tersakiti.

Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Sudah cukup !! Muak !!

*****

Malam ini hujan turun kembali. Malam mencekam dengan sambaran petir yang terlihat sejauh mata memandang. Tanpa ada bintang. Tanpa ada bulan. Malam ini seakan mengabarkan berita buruk untuk Rendy. Malam dimana Rendy hanya sendiri. Tersakiti. Terluka. Patah hati. Dengan tetesan air mata yang sedikit demi sedikit membasahi pipi. Dia seorang lelaki. Apakah lelaki tidak pantas dan tidak boleh untuk menangis? Tolol!.

Satu per satu barang Rendy terlempar ke seluruh penjuru ruangan. Barang yang seharusnya tertata dengan rapi, tapi kini berantakan kembali. Sakit hati yang ia rasakan lebih dari sambaran petir di kala hujan lebat. Hatinya kini benar-benar terluka, tertusuk pedang bermata dua yang siap menghujam jantungya untuk berhenti bernafas. Lebih baik mati daripada hati terus-menerus tersiksa karena cinta. Persetan dengan cinta! Tolol! Hanya orang bodoh yang terluka saat orang yang ia cintai ternyata sudah menjadi milik orang lain! Cukup!! Hentikan!!

Detak jantungnya kian lama kian melemah. Tangan untuk dia melempar, kini layu dan bercucuran darah. Kaki yang tadinya kuat untuk menopang tubuh Rendy, kini menjadi kayu lapuk yang rusak , terus tersiksa akan kekejaman hidup.

Semakin lama..... semakin lama..... matanya kini terpejam. Tanpa sadar dia telah masuk ke alam bawah sadarnya. “ dimana?. Dimana aku? Dimana!!”, teriaknya meskipun tak ada orang yang akan mendengar dan mengerti. Kini hatinya telah mati. Mati karena cinta. Mati karena kekejaman cinta. Cinta yang hanya membawa kebahagiaan di awalnya saja. Cinta yang hanya membawa angan-angan belaka. Cinta yang ternyata hanya fantasi hidup untuk membuat seseorang terluka karenanya! Bullshit!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar